Nasib Berkata

Beberapa minggu ini di koran beredar kabar aneh-aneh yang bikin miris.
Peristiwa pembagian zakat di Pasuruan menyisakan korban.
Yang menyentuh, ada anak yatim yang ibunya meninggal akibat berebut zakat senilai tiga puluh ribu rupiah. Begitu rendahnya nilai jiwa.
Akhirnya mereka jadi yatim piatu.
Dulu sepeninggal bapaknya, mereka putus sekolah.
Malah sekarang semua terancam tidak dapat sekolah.
Kemudian Menkominfo datang dan memberi perintah untuk menanggung biaya pendidikan mereka sampai sarjana.
Apakah begitu kuatnya garis nasib.......
Mereka harus jadi yatim piatu dulu, untuk dapat gelar sarjana.

Juga kisah petugas penjara yang tidak sengaja membuat seorang anak kecil meninggal, karena kelalaiannya (baca : apes) menarik pelatuk senjatanya.
Petugas tersebut sangat menyesal, dia menangis dan menggendong anak kecil itu sendiri ke rumah sakit.
Setelah peristiwa itu berlalu, dia masih saja menyesali kejadian itu, sepertinya dia orang baik. Bayangkan bagaimana rasanya bila seakan membunuh anak kecil, yang mungkin seusia anaknya sendiri.
Jadi mungkin ia berandai- seandainya anak itu anaknya....
Peluru itu sendiri apa ya memang begitu kuat sampai bisa menembus kayu, melukai ibu si anak kecil dan berhenti di tubuhnya.

Apa bukan garis nasib....
Bagaimana bisa keinginannya menengok bapaknya untuk pertama kali di penjara merupakan jalan akhir hidupnya.
Ah.... garis nasib

Ada juga cerita tentang teman saya sendiri.
Perempuan muda, very attractive young woman.
Cantik dan menarik. Sangat pandai dan dari keluarga berada.
Dia selalu jadi yang paling menonjol di lingkungannya.
Menikah dengan orang yang dicintai.....
Punya anak satu, perempuan, umur tiga tahun. Lucu dan selalu didandani tomboi.
Sepertinya hidup yang sangat sempurna.

Tiba-tiba bulan-bulan ini muncul kabar buruk.
Teman saya itu lagi stress....... mau cerai!
Mula-mula sih pikiran udah aneh-aneh. Ada apa ya....
Ternyata, orang tua suaminya yang adalah salah satu kyai besar di jawa timur.
Beliau menginginkan cucu laki-laki dari anak laki-laki tunggalnya tersebut.
Penerus keturunan.
Dan teman saya itu karena faktor kesehatan sudah tidak bisa punya anak lagi.
Akibatnya mereka harus bercerai.......
dengan suami pilihan yang dicintai.....
Dengan alasan yang bukan kehendak sendiri....

Wajar saja bila dia sekarang sangat tertekan.
Apakah suaminya tidak bisa mempertahankan rumah tangganya?
Mungkin ada option bahwa teman saya itu harus dimadu. Walaupun madu itu manis. Tetapi dimadu itu pasti sangat pahit, sehingga jarang ada wanita yang rela....
Teh Nini-nya Aa' Gym yang hebat itu aja juga terpaksa dimadunya.

Ataukah Si Bapak yang terlalu orthodoks.....
Jangan meremehkan perempuan, Pak. Wanita sekarang hebat-hebat !
Mungkin itu sebabnya mengapa anak teman saya itu kelihatan sekali seperti laki-laki.
Anak kecil itu selalu diberi celana dan kaos. Bukan celana dan kaos untuk anak perempuan, tapi yang modelnya buat anak laki-laki. Telinganya juga tidak ditindik.
Padahal anak perempuan umur segitu lagi genit-genitnya.
Kasihan juga kalau masih umur tiga tahun sudah jadi korban gender, kasihan kondisi psikisnya bila pola asuhnya tidak diubah.

Atau memang ajaran Islam yang tidak memungkinkan wanita menjadi Imam.
Untuk kalangan fanatik seperti pesantren, hal itu mungkin sudah jadi hal yang hakiki. Doktrin absolut yang tidak dapat direvisi.
Oh garis nasib....

Menurut referensi literatur yang sering saya baca, kalau kita punya keyakinan penuh akan segala yang kita yakini dalam hidup kita, maka kita akan punya kiuasa yang menentukan nasib kita sendiri.
tapi kenyataannya dalam hidup....
Ternyata Allah-lah yang lebih perkasa.
Semua hal bisa terjadi di luar logika, perhitungan dan harapan...
Saya jadi ngeri....

Semoga hal-hal baik saja yang diberikan Allah pada kita semua


18 comments:

Anna said...

Memang semuanya Allah yang ngatur, untuk itu kita harus berpikir, berkata dan berdo'a yang baik-baik saja. Juga amal/sedekah bis mencegah bala' atau musibah.

adi said...

sabar,, semoga dapat ganti yang lebih baik..

tyar said...

cape deh...

setiawan said...

bagi zakat dong

mainan said...

Kita kembali ke selera asal...mari

firta said...

@anna:
Memang bener, do'a itu menyejukkan hati. kalau hati sejuk, pikiran tenang dan semua jadi terkendali

firta said...

@adi:
kita doakan aja
@tyar:
Cape apanya ya...
@setiawan:
Oke
@mainan:
mari kembali ke selera asal

Hendrata said...

Gue juga cape deh

budi said...

Kalo bicara nasib tidak akan pernah habis namun marilah kita mendekatkan diri pada Tuhan.

firta said...

@hendrata :
he...he...
@budi:
memang mas, Allah-lah yang bisa menyelesaikan segalanya. Juga merevisi nasib kita

Weleh-weleh said...

Mas Budi, apa doa bisa mengubah nasib kita

Rikud said...

sabar ya :)

albri said...

Ah artikel ini cuma bikin sedih aku yang saat ini sudah sedih

setiawan said...

Selamat Hari lebaran, Bu. Maaf lahir batin

Nani said...

Lain kali bikin artikel yang lucu saja....

firta said...

@weleh-weleh: kalau menurut saya, insyallah doa itu membantu menyelesaikan masalah. kalau hati tenang, pikiran tenang, langkah jadi tertata.
@rikud : thanks
@abri: ada yang bisa saya bantu supaya gak sedih?
@setiawan : selamat lebaran juga
@nani: oke

642-611 said...

Selamat untuk usahanya mas semoga sukses selalu....sangat bermanfaat.

testking EX0-103 said...

thnks info nya mas..
saya ijin bookmark situs ini.